By: Novi The C
Sesak dada terasa
Karena secuil rindu bergelora
Menukik ke angkasa
Tuk tuangkan segala rasa
Ini bukan sandiwara
Tapi nyata
Bahwa diri ini sungguh dahaga
Akan kehadirannya
Jogjakarta, 15 Juli 2009
Friday, July 27, 2012
Thursday, July 26, 2012
MENGKRITISI AHMAD MUSHADDEQ
DISUSUN UNTUK MAKALAH UJIAN AGAMA ISLAM
Ajaran Ahmad Musheddeq meski menyimpang tetapi pengikutnya tergolong banyak tersebar di berbagai daerah. Hal ini berarti aliran ini juga diterima oleh sebagian masyarakat. Hal itu dapat terjadi karena jika dilihat dari prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Mushaddeq, dengan bergabung dengan aliran tersebut merupakan bentuk pelarian orang-orang yang merasa terbelenggu dari ajaran-ajaran agama yang telah ada, mereka selama ini tidak ikhlas dalam beragama. Hal ini berarti bukan agamanya yang salah tetapi kemungkinan besar bahwa cara penyampaiannya dan cara pemahaman orang-orang yang menerima suatu ajaran agama yang belum benar. Tetapi untuk memandang atau mengkritisi aliran ini perlu memandang secara jernih berdasarkan Al-Quran.
Syahadat merupakan pernyataan pengakuan terhadap keesaan Allah dan pernyataan terhadap Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, pernyataan ini menunjukkan pengakuan bahwa Allah sajalah yang harus disembah dan tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang kita ikuti ajaran-ajarannya, dengan demikian syahadat merupakan pernyataan pengakuan yang fundamental bagi seorang muslim atas keislamannya oleh karena itu wajar jika syahadat menjadi point pertama pada rukun Islam.
Dengan mengganti syahadat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiah juga menganggap bahwa Ahmad Mushaddeq sebagai nabi yang menggantikan Nabi Muhammad saw. maka dia menggangu kekuasaan Allah dan hal ini bertentangan dengan surat Al-Mukminun ayat 80:
Artinya: Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu Maha Kuasa, hanya Allah yang bisa mengatur segala sesuatu yang terjadi pada seluruh kekuasaan-Nya yaitu makhluk-makhluk ciptaann-Nya. Maka barang siapa yang mengganggu ciptaan Allah yang merupakan kekuasaan-Nya, dia tidak berpikir atas kekuasaan Allah tersebut.
Menilik dari surat Al-Hujuraat ayat 2 yang berbunyi yaitu:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu[1408], sedangkan kamu tidak menyadari.
[1408] meninggikan suara lebih dari suara nabi atau bicara keras terhadap nabi adalah suatu perbuatan yang menyakiti nabi. Karena itu terlarang melakukannya dan menyebabkan hapusnya amal perbuatan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa akan ada manusia yang merasa lebih dari Nabi dan hal itu jelas sekali serta dengan meniadakan Nabi Muhammad itu tercermin dalam ayat tersebut. Otomatis segala hal yang dilakukan Ahmad Mushaddeq itu terancam dalam ayat ini maka sebagai penyataan di akhir ayat ini ancamannya terhapus amal-amalnya meski yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Dengan perbuatan itu jelas apa yang dilakukannya terkena aturan Al-Quran pada surat Al-Maaidah ayat 10 yang berbunyi:
Artinya: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu adalah penghuni neraka.
Dan tentu saja bagi orang-orang Islam merasa tersinggung terhadap apa yang dilakukan Ahmad Mushaddeq dan para pengikut ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiah seperti juga tersinggungnya MUI, karena dasarnya adalah pada surat Al-An’am ayat 33 yang berbunyi:
Artinya: Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah[469].
[469] dalam ayat Ini Allah menghibur nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, Karena nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Perlu diperhatikan juga pada surat Al-Hujuraat ayat 1 yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya[1407] dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
[1407] maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
Maka yang paling utama adalah persoalan-persoalan yang ada seharusnya merujuk kepada Al-Quran, karena jika tidak sama saja kita mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam perkatan dan perbuatan. Seandainya kita tersirat sesuatu yang kita kira benar maka kita kembalikan kepada Allah artinya kita bertanya langsung kepada Allah melalui Al-Quran dan apabila disimak lebih lanjut pelanggaran atau pengingkaran terhadap nabi, menghapus ajaran lama, membawa syari’at baru dan membuat syahadat baru maka sama saja pelanggaran terhadap aqidah karena pernyataan Ahmad Mushaddeq tersebut sama saja dengan mendeskriditkan atau mengabaikan Al-Qur’an meski bermula dari sebuah syahadat, dengan kata lain Ahmad Mushaddeq telah mengadakan pengingkaran terhadap aqidahnya sendiri, paling tidak berlaku syirik karena menciptakan sesembahannya selain pada Allah seperti tercantum dalam Al-Quran pada surat Al-Ahqaaf ayat 4 yaitu:
Artinya: Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang Telah mereka ciptakan dari bumi Ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) Ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
Dengan mengubah syahadat dan tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, ini melanggar keimanan karena sama saja menolak apa yang dinyatakan Al-Qur’an bahwa Muhammad adalah nabi yang terakhir, jika menentang Al-Qur’an sama saja menentang Allah hal itu sesuai dengan Al-Quran sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 153
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Menentukan dan menghilangkan shalat itu bertentangan dengan Al-Baqarah ayat 153 ini, shalat yang dimaksud adalah shalat fardu, seperti halnya peristiwa isra’ mi’raj bahwa perintah shalat telah diterima Nabi Muhammad dari Allah yaitu shalat lima waktu. Ahmad Mushaddeq yang mengingkari adanya shalat lima waktu yang menurut ajarannya bahwa yang ada adalah shalat malam saja, lebih jauh bisa dimaknai bahwa jika shalat lima waktu yang wajib dan inti saja ditolak dan tidak dikerjakan maka yang sunnah tidak akan punya arti.
Masalah ketertarikan masyarakat untuk mengikuti Al-Qiyadah Al-Islamiah disebabkan kebimbangan jiwa atau kelelahan spiritual, himpitan jaman juga karena keadaan saat ini, sehingga mereka memerlukan suatu pencerahan. Namun perlu diingat bahwa himpitan dan tekanan dalam jiwa merupakan suatu ujian dari Allah yang sesuai dengan Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 155:
Artinya: Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ayat ini menunjukkan bahwa penekanan pada kata sabar, artinya orang-orang yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 153 tersebut. Jadi para pengikut ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiah ini secara inti merupakan orang-orang yang tidak sabar, mereka menginginkan ajaran agama yang lebih praktis dan lebih mudah, padahal dengan sabar sesungguhnya akan menyelesaikan masalah-masalah yang ada dengan yakin dan percaya pada Allah akan segala kuasa-Nya. Jika benar bahwa masyarakat yang mengikuti ajaran dari Mushaddeq ini karena bentuk kelelahan religi atau kelelahan jiwa atas himpitan dalam jaman ini, maka seharusnya mereka kembalikan kepada Allah untuk penetrasi atau menentramkan diri seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 156:
Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa(pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Ajaran Ahmad Musheddeq meski menyimpang tetapi pengikutnya tergolong banyak tersebar di berbagai daerah. Hal ini berarti aliran ini juga diterima oleh sebagian masyarakat. Hal itu dapat terjadi karena jika dilihat dari prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Mushaddeq, dengan bergabung dengan aliran tersebut merupakan bentuk pelarian orang-orang yang merasa terbelenggu dari ajaran-ajaran agama yang telah ada, mereka selama ini tidak ikhlas dalam beragama. Hal ini berarti bukan agamanya yang salah tetapi kemungkinan besar bahwa cara penyampaiannya dan cara pemahaman orang-orang yang menerima suatu ajaran agama yang belum benar. Tetapi untuk memandang atau mengkritisi aliran ini perlu memandang secara jernih berdasarkan Al-Quran.
Syahadat merupakan pernyataan pengakuan terhadap keesaan Allah dan pernyataan terhadap Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, pernyataan ini menunjukkan pengakuan bahwa Allah sajalah yang harus disembah dan tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang kita ikuti ajaran-ajarannya, dengan demikian syahadat merupakan pernyataan pengakuan yang fundamental bagi seorang muslim atas keislamannya oleh karena itu wajar jika syahadat menjadi point pertama pada rukun Islam.
Dengan mengganti syahadat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiah juga menganggap bahwa Ahmad Mushaddeq sebagai nabi yang menggantikan Nabi Muhammad saw. maka dia menggangu kekuasaan Allah dan hal ini bertentangan dengan surat Al-Mukminun ayat 80:
Artinya: Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu Maha Kuasa, hanya Allah yang bisa mengatur segala sesuatu yang terjadi pada seluruh kekuasaan-Nya yaitu makhluk-makhluk ciptaann-Nya. Maka barang siapa yang mengganggu ciptaan Allah yang merupakan kekuasaan-Nya, dia tidak berpikir atas kekuasaan Allah tersebut.
Menilik dari surat Al-Hujuraat ayat 2 yang berbunyi yaitu:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu[1408], sedangkan kamu tidak menyadari.
[1408] meninggikan suara lebih dari suara nabi atau bicara keras terhadap nabi adalah suatu perbuatan yang menyakiti nabi. Karena itu terlarang melakukannya dan menyebabkan hapusnya amal perbuatan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa akan ada manusia yang merasa lebih dari Nabi dan hal itu jelas sekali serta dengan meniadakan Nabi Muhammad itu tercermin dalam ayat tersebut. Otomatis segala hal yang dilakukan Ahmad Mushaddeq itu terancam dalam ayat ini maka sebagai penyataan di akhir ayat ini ancamannya terhapus amal-amalnya meski yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Dengan perbuatan itu jelas apa yang dilakukannya terkena aturan Al-Quran pada surat Al-Maaidah ayat 10 yang berbunyi:
Artinya: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu adalah penghuni neraka.
Dan tentu saja bagi orang-orang Islam merasa tersinggung terhadap apa yang dilakukan Ahmad Mushaddeq dan para pengikut ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiah seperti juga tersinggungnya MUI, karena dasarnya adalah pada surat Al-An’am ayat 33 yang berbunyi:
Artinya: Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah[469].
[469] dalam ayat Ini Allah menghibur nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, Karena nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Perlu diperhatikan juga pada surat Al-Hujuraat ayat 1 yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya[1407] dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
[1407] maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
Maka yang paling utama adalah persoalan-persoalan yang ada seharusnya merujuk kepada Al-Quran, karena jika tidak sama saja kita mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam perkatan dan perbuatan. Seandainya kita tersirat sesuatu yang kita kira benar maka kita kembalikan kepada Allah artinya kita bertanya langsung kepada Allah melalui Al-Quran dan apabila disimak lebih lanjut pelanggaran atau pengingkaran terhadap nabi, menghapus ajaran lama, membawa syari’at baru dan membuat syahadat baru maka sama saja pelanggaran terhadap aqidah karena pernyataan Ahmad Mushaddeq tersebut sama saja dengan mendeskriditkan atau mengabaikan Al-Qur’an meski bermula dari sebuah syahadat, dengan kata lain Ahmad Mushaddeq telah mengadakan pengingkaran terhadap aqidahnya sendiri, paling tidak berlaku syirik karena menciptakan sesembahannya selain pada Allah seperti tercantum dalam Al-Quran pada surat Al-Ahqaaf ayat 4 yaitu:
Artinya: Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang Telah mereka ciptakan dari bumi Ini atau Adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) Ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
Dengan mengubah syahadat dan tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, ini melanggar keimanan karena sama saja menolak apa yang dinyatakan Al-Qur’an bahwa Muhammad adalah nabi yang terakhir, jika menentang Al-Qur’an sama saja menentang Allah hal itu sesuai dengan Al-Quran sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 153
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Menentukan dan menghilangkan shalat itu bertentangan dengan Al-Baqarah ayat 153 ini, shalat yang dimaksud adalah shalat fardu, seperti halnya peristiwa isra’ mi’raj bahwa perintah shalat telah diterima Nabi Muhammad dari Allah yaitu shalat lima waktu. Ahmad Mushaddeq yang mengingkari adanya shalat lima waktu yang menurut ajarannya bahwa yang ada adalah shalat malam saja, lebih jauh bisa dimaknai bahwa jika shalat lima waktu yang wajib dan inti saja ditolak dan tidak dikerjakan maka yang sunnah tidak akan punya arti.
Masalah ketertarikan masyarakat untuk mengikuti Al-Qiyadah Al-Islamiah disebabkan kebimbangan jiwa atau kelelahan spiritual, himpitan jaman juga karena keadaan saat ini, sehingga mereka memerlukan suatu pencerahan. Namun perlu diingat bahwa himpitan dan tekanan dalam jiwa merupakan suatu ujian dari Allah yang sesuai dengan Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 155:
Artinya: Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ayat ini menunjukkan bahwa penekanan pada kata sabar, artinya orang-orang yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 153 tersebut. Jadi para pengikut ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiah ini secara inti merupakan orang-orang yang tidak sabar, mereka menginginkan ajaran agama yang lebih praktis dan lebih mudah, padahal dengan sabar sesungguhnya akan menyelesaikan masalah-masalah yang ada dengan yakin dan percaya pada Allah akan segala kuasa-Nya. Jika benar bahwa masyarakat yang mengikuti ajaran dari Mushaddeq ini karena bentuk kelelahan religi atau kelelahan jiwa atas himpitan dalam jaman ini, maka seharusnya mereka kembalikan kepada Allah untuk penetrasi atau menentramkan diri seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 156:
Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa(pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Labels:
Agama
Wednesday, July 25, 2012
PELAKSANAAN NYATA FUNGSI PARTAI POLITIK DI INDONESIA (2007)
TUGAS MAKALAH
PELAKSANAAN NYATA
FUNGSI PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Politik Indonesia yang diampu oleh Tunjung Sulaksono, S.IP
2007
I. PEMBAHASAN
Untuk menjamin kelangsungan demokrasi, maka dibutuhkan alat sebagai regulator dan wadah ekspresi masyarakat, maka dibuatlah partai politik sebagai media partai politik sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional, untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka (Meriam B,1993:160-161). Keberadaan partai politik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan setiap negara demokrasi dan dianggap sebagai salah satu institusi yang mampu mengakomodir aspirasi rakyat serta dapat dijadikan alat kontrol kebijakan-kebijakan pemerintah. Partai politik memiliki fungsi*:
1. Sebagai Sarana Komunikasi Politik
Awal kemerdekaan, partai politik belum berperan optimal sebagai wadah menyalurkan aspirasi politik rakyat terlihat banyak ketidakpuasan masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dalam bentuk gerakan-gerakan separatis seperti proklamasi Negara Islam oleh Kartosuwiryo tahun 1949. Pada masa orde lama, peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat juga belum terlaksana sesuai harapan. Partai politik cenderung terperangkap oleh kepentingan partai bukan kepentingan rakyat, akibatnya terjadi ketidakstabilan sistem kehidupan politik dan kemasyarakatan yang ditandai dengan berganti-gantinya kabinet. Rasa keadilan terusik dan ketidakpuasan semakin mengental, demokrasi hanya dijadikan slogan politik, tapi tidak disertai upaya memberdayakan pendidikan politik rakyat. Masa orde baru, peran partai politik dicoba ditata melalui UU No. 3 Tahun 1973. Trauma penyakit kepartaian agaknya telah mendorong pemerintah untuk memperkecil jumlah partai politik dengan cara memfusikannya sehingga konflik-konflik ideologipun, seandainya timbul, akan dapat diperkecil.**..Namun penataan partai politik tersebut ternyata tidak membuat semakin berperannya partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat. Hal ini terlihat dari kebijaksanaan publik yang dihasilkan ternyata kurang memperhatikan aspirasi politik rakyat dan cenderung merupakan sarana legitimasi kepentingan penguasa dan kelompok tertentu. Hal ini karena peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat tidak ditempatkan sebagai kekuatan politik bangsa tetapi hanya sebagai mesin politik penguasa dan assesoris demokrasi untuk legitimasi kekuasaan. Akibatnya peran partai politik sebagai wadah penyalur betul-betul terbukti nyaris bersifat mandul dan hampir-hampir tak berfungsi.
Era reformasi muncul sebagai gerakan korektif dan pelopor perubahan-perubahan mendasar di berbagai aspek kehidupan. Gerakan reformasi yang melahirkan proses perubahan dan melengserkan pemerintahan orde baru dan melahirkan UU No. 3 Tahun 1999 tentang partai politik memungkinkan sistem multi partai kembali bermunculan. Aturan hukum yang sangat mudah untuk mendirikan sebuah partai politik. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh ”politisi petualang” untuk mendirikan partai politik baru dengan prinsip asal beda dari partai-partai yang sudah ada, sebagaimana yang sedang ”ngetren” akhir-akhir ini (Jeffry Geovanny: Republika, 7/12/2005).
* Mas’oed, Mohtar dan MacAndrews, Colin (ed).1997. Perbandingan Sistem Politik.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
** Isbodroini Suyanto.1989.Perkembangan Peranan DPR-RI: Suatu Tinjauan Budaya Politik,Makalah Seminar AIPI.Yogyakarta:AIPI
2. Peran Sebagai Sarana Sosialisasi Politik
Proses sosialisasi atau pendidikan politik Indonesia tidak memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan masyarakat madani (civil society).* Masyarakat madani
merupakan gambaran tingkat partisipasi politik pada takaran yang maksimal. Dalam
kaitan ini, sedikitnya ada tiga alasan utama mengapa pendidikan politik dan sosialisasi
politik di Indonesia tidak memberi peluang yang cukup untuk meningkatkan partisipasi
politik masyarakat.**
3. Peran Sebagai Sarana Rekrutmen Politik
Rekrutmen politik yang adil, transparan, dan demokratis pada dasarnya untuk memilih orang-orang yang berkualitas dan mampu memperjuangkan nasib rakyat
untuk mensejahterakan dan menjamin kenyamanan dan keamanan hidup bagi
setiap warga negara. Namun sampai saat ini proses rekrutmen politik belum berjalan secara terbuka, transparan, dan demokratis yang berakibat pemilihan kader menjadi tidak obyektif. Proses penyiapan kader juga tidak sistematik dan tidak berkesinambungan. Pembinaan terhadap kadernya lebih inten hanya pada saat menjelang adanya event-event politik dan masih lebih didominasi oleh kekuatan-kekuatan di luar partai politik.
4. Peran Sebagai Sarana Pengatur Konflik
Dalam menjalankan peran sebagai pengatur konflik ini, partai-partai politik harus
benar-benar mengakar di hati rakyat banyak, peka terhadap tuntutan kebutuhan rakyat. Dengan munculnya partai-partai baru tentu saja persyaratan mengakar di hati rakyat belum bisa terpenuhi. Sedangkan partai politik yang lama belum tentu telah memiliki akar yang kuat di hati rakyat, mengingat partisipasi politik rakyat masih lebih banyak bersifat semu. Artinya rakyat baru memiliki partisipasi yang nyata adalah pada saat pelaksanaan pemilihan umum, sementara pada proses-proses pembuatan keputusan politik, dan kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan politik masih tergolong dalam kategori yang relatif rendah. Belum cukup marak tuntutan dan suara-suara yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Awal pendirian suatu partai akan mengatakan bahwa partai tersebut didirikan untuk memperjuangkan rakyat kecil, memperbaiki nasib kalangan bawah dan segudang janji manis lainnya. Namun Pemilihan Umum selesai maka janji tinggallah janji. Alih-alih berusaha memperjuangkan nasib rakyat, partai-partai politik malah sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit partai-partai politik tersebut malah mengalami perpecahan. Bagaimana bisa memperjuangkan nasib rakyat kalau kondisi internal partainya rentan terhadap perpecahan.
Kegagalan paling mendasar para pimpinan partai politik adalah bahwa tak seorang pun dari mereka yang telah membenahi organisasi partai sebagai sarana demokrasi. Pelaksanaan atas demokrasi itu sendiri sampai hari ini juga masih terjadi kekurangan dan adanya penyakit khas yang menjangkit di Indonesia ini, pelaksanaan demokrasi malahan meminta “tumbal”. Orang-orang partai politik banyak melakukan praktek money politic. Di antaranya bahwa partai politik di Indonesia merupakan lembaga terkorup. Dengan kondisi partai politik yang mulai kehilangan basisnya karena
* Yaitu suatu masyarakat yang mandiri, yang mampu mengisi ruang publik sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebihan.
** Gaffar, Afan.1999.Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi.Jakarta:Pustaka Pelajar Indonesia.
partai politik kurang peka dan respek terhadap penderitaan rakyat. Partai politik tak lebih sebagai kendaraan politik menuju singgasana kekuasaan dan politik dagang sapi menjamur. Fenomena itu tentunya disebabkan karena hampir semua partai politik secara historis dibangun atas ”privilege cultural”, sehingga dari sisi kapasitas dan kapabilitasnya masih diragukan. Terbentuknya partai politik juga hanya berangkat dari kepentingan segelintir orang terhadap kekuasaan dan uang, ini terlihat dengan terjadinya kompromi antara pihak pemodal, penguasa, militer dan lain-lain yang secara faktual di luar kapasitasnya. Selain itu bangunan dasar partai politik yang naif dan pragmatis, hal ini juga terlihat jelas ketika partai politik hanya bergerak dan bekerja manakala sedang menghadapi momentum perebutan kekuasaan menguntungkan bagi partai politik. Adanya gejala korupsi yang bersifat sistemik serta ada kecenderungan berpartai politik merupakan satu jenis profesi alternatif untuk mengais rezeki karena mudah mendirikan partai politik. Secara umum partai politik tumbuh di Indonesia bukan berfungsi sebagai sarana pengelola konflik, akan tetapi malah menjadi faktor signifikan dalam menciptakan, memperluas serta meningkatkan bobot konflik. Bukannya menjadi sarana kontrol sosial, namun malah menjadi institusi yang sulit dikontrol.
Akhirnya, partai politik tidak lagi memainkan peran sosoknya sebagai media perjuangan rakyat menuju kesejahteraan, akan tetapi justru menjadi alat untuk memperkaya diri dan memperkokoh posisi. Jika demikian realitasnya, kata ”demokrasi” di negeri ini hanya sebuah slogan bagi para politisi dan penguasa untuk meloloskan niat mereka, rakyat benar-benar berada di ujung tanduk, yang tak mampu berdiri tegak karena sendinya sangat rapuh. Tak ada jalan lain jika kemudian dampaknya seperti ini. langkah-langkah dan strategi partai politik tersebut kebanyakan tidak menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai ideologi politik partai mereka. Langkah-langkah mereka cenderung pragmatis dan oportunis. Dan ironisnya partai politik tidak memiliki peran signifikan dalam mensukseskan pilkada yang jujur, adil, bersih dan aman di berbagai daerah. Sebab di internal partai sendiri masing-masing orang atau kelompok punya kepentingan masing-masing. Ini juga menjadi tolak ukur kegagalan partai politik untuk menanamkan nilai-nilai yang terdapat pada ideologi politik tersebut. Dengan kondisi semacam itu, dimana ada ketimpangan antara ideologi dengan realitas dan antara nilai-nilai dengan langkah-langkah partai politik di Indonesia. Dengan demikian jelaslah bahwa meskipun berada dalam lingkaran luar dalam sistem pembuatan kebijakan, partai politik memegang peranan yang cukup besar. Dengan demikian seharusnya partai politik itu keberadaannya sangat penting dalam proses pembuatan kebijakan publik. Partai politik seringkali tidak berfungsi sebagai penyedia akses bagi penyaluran tuntutan yang absah kepada penguasa, tetapi hanya sebagai elemen dalam strategi persatuan nasional dan pengontrolan pendapat.*
Eksistensi dan peran partai politik dalam proses pembuatan kebijakan sangat lemah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya peran partai politik dalam proses pembuatan publik adalah sistem kepartaian yang dianut oleh negara yang bersangkutan(James Anderson,1984:10). Sampai dengan pelaksanaan pemilihan umum tahun 1997 jumlah partai politik yang ada memang sama dengan yang dicirikan dalam sistem multiparty, tetapi peran partai dalam proses pembuatan kebijakan publik cenderung sama dengan yang ada di negara dengan sistem satu-partai. Dengan demikian partai politik praktis menjadi organ pemerintah di luar birokrasi maka parpol
* Ichlasul Amal.1988.Teori-Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta:Tiara Wacana.
kehilangan legitimasi di hadapan publik. Perkembangan ini akhirnya mempengaruhi penampilan parpol terutama dalam hal aksesnya terhadap policy making. Fungsi parpol sebagai penyalur aspirasi publik untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan public terkikis oleh peran barunya sebagai organ pemerintah.
Dalam pengertian melakukan perubahan dan penyesuaian struktur politik yang berkaitan erat dengan peran partai politik, antara lain Partai politik merupakan sarana yang sangat efektif dan bersifat legal dalam mewujudkan kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran dalam mengembangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Untuk menjamin berjalannya peran partai politik dalam peningkatan partisipasi politik masyarakat secara optimal, diperlukan keselarasan dan keseimbangan hubungan antar kekuatan sosial politik dan keseimbangan serta keselarasan peran partai politik itu sendiri baik sebagai wadah penyalur aspirasi rakyat, sarana sosialisasi politik, sarana rekrutmen politik, maupun sebagai sarana pengatur konflik tidak lagi mampu mengagregasi (menghimpun) dan mengartikulasi (menyalurkan) aspirasi masyarakat sehingga semakin jauh pula harapan bagi terjadinya konsolidasi demokrasi di tanah air.
PELAKSANAAN NYATA
FUNGSI PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Politik Indonesia yang diampu oleh Tunjung Sulaksono, S.IP
2007
I. PEMBAHASAN
Untuk menjamin kelangsungan demokrasi, maka dibutuhkan alat sebagai regulator dan wadah ekspresi masyarakat, maka dibuatlah partai politik sebagai media partai politik sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional, untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka (Meriam B,1993:160-161). Keberadaan partai politik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan setiap negara demokrasi dan dianggap sebagai salah satu institusi yang mampu mengakomodir aspirasi rakyat serta dapat dijadikan alat kontrol kebijakan-kebijakan pemerintah. Partai politik memiliki fungsi*:
1. Sebagai Sarana Komunikasi Politik
Awal kemerdekaan, partai politik belum berperan optimal sebagai wadah menyalurkan aspirasi politik rakyat terlihat banyak ketidakpuasan masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dalam bentuk gerakan-gerakan separatis seperti proklamasi Negara Islam oleh Kartosuwiryo tahun 1949. Pada masa orde lama, peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat juga belum terlaksana sesuai harapan. Partai politik cenderung terperangkap oleh kepentingan partai bukan kepentingan rakyat, akibatnya terjadi ketidakstabilan sistem kehidupan politik dan kemasyarakatan yang ditandai dengan berganti-gantinya kabinet. Rasa keadilan terusik dan ketidakpuasan semakin mengental, demokrasi hanya dijadikan slogan politik, tapi tidak disertai upaya memberdayakan pendidikan politik rakyat. Masa orde baru, peran partai politik dicoba ditata melalui UU No. 3 Tahun 1973. Trauma penyakit kepartaian agaknya telah mendorong pemerintah untuk memperkecil jumlah partai politik dengan cara memfusikannya sehingga konflik-konflik ideologipun, seandainya timbul, akan dapat diperkecil.**..Namun penataan partai politik tersebut ternyata tidak membuat semakin berperannya partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat. Hal ini terlihat dari kebijaksanaan publik yang dihasilkan ternyata kurang memperhatikan aspirasi politik rakyat dan cenderung merupakan sarana legitimasi kepentingan penguasa dan kelompok tertentu. Hal ini karena peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat tidak ditempatkan sebagai kekuatan politik bangsa tetapi hanya sebagai mesin politik penguasa dan assesoris demokrasi untuk legitimasi kekuasaan. Akibatnya peran partai politik sebagai wadah penyalur betul-betul terbukti nyaris bersifat mandul dan hampir-hampir tak berfungsi.
Era reformasi muncul sebagai gerakan korektif dan pelopor perubahan-perubahan mendasar di berbagai aspek kehidupan. Gerakan reformasi yang melahirkan proses perubahan dan melengserkan pemerintahan orde baru dan melahirkan UU No. 3 Tahun 1999 tentang partai politik memungkinkan sistem multi partai kembali bermunculan. Aturan hukum yang sangat mudah untuk mendirikan sebuah partai politik. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh ”politisi petualang” untuk mendirikan partai politik baru dengan prinsip asal beda dari partai-partai yang sudah ada, sebagaimana yang sedang ”ngetren” akhir-akhir ini (Jeffry Geovanny: Republika, 7/12/2005).
* Mas’oed, Mohtar dan MacAndrews, Colin (ed).1997. Perbandingan Sistem Politik.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
** Isbodroini Suyanto.1989.Perkembangan Peranan DPR-RI: Suatu Tinjauan Budaya Politik,Makalah Seminar AIPI.Yogyakarta:AIPI
2. Peran Sebagai Sarana Sosialisasi Politik
Proses sosialisasi atau pendidikan politik Indonesia tidak memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan masyarakat madani (civil society).* Masyarakat madani
merupakan gambaran tingkat partisipasi politik pada takaran yang maksimal. Dalam
kaitan ini, sedikitnya ada tiga alasan utama mengapa pendidikan politik dan sosialisasi
politik di Indonesia tidak memberi peluang yang cukup untuk meningkatkan partisipasi
politik masyarakat.**
3. Peran Sebagai Sarana Rekrutmen Politik
Rekrutmen politik yang adil, transparan, dan demokratis pada dasarnya untuk memilih orang-orang yang berkualitas dan mampu memperjuangkan nasib rakyat
untuk mensejahterakan dan menjamin kenyamanan dan keamanan hidup bagi
setiap warga negara. Namun sampai saat ini proses rekrutmen politik belum berjalan secara terbuka, transparan, dan demokratis yang berakibat pemilihan kader menjadi tidak obyektif. Proses penyiapan kader juga tidak sistematik dan tidak berkesinambungan. Pembinaan terhadap kadernya lebih inten hanya pada saat menjelang adanya event-event politik dan masih lebih didominasi oleh kekuatan-kekuatan di luar partai politik.
4. Peran Sebagai Sarana Pengatur Konflik
Dalam menjalankan peran sebagai pengatur konflik ini, partai-partai politik harus
benar-benar mengakar di hati rakyat banyak, peka terhadap tuntutan kebutuhan rakyat. Dengan munculnya partai-partai baru tentu saja persyaratan mengakar di hati rakyat belum bisa terpenuhi. Sedangkan partai politik yang lama belum tentu telah memiliki akar yang kuat di hati rakyat, mengingat partisipasi politik rakyat masih lebih banyak bersifat semu. Artinya rakyat baru memiliki partisipasi yang nyata adalah pada saat pelaksanaan pemilihan umum, sementara pada proses-proses pembuatan keputusan politik, dan kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan politik masih tergolong dalam kategori yang relatif rendah. Belum cukup marak tuntutan dan suara-suara yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Awal pendirian suatu partai akan mengatakan bahwa partai tersebut didirikan untuk memperjuangkan rakyat kecil, memperbaiki nasib kalangan bawah dan segudang janji manis lainnya. Namun Pemilihan Umum selesai maka janji tinggallah janji. Alih-alih berusaha memperjuangkan nasib rakyat, partai-partai politik malah sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit partai-partai politik tersebut malah mengalami perpecahan. Bagaimana bisa memperjuangkan nasib rakyat kalau kondisi internal partainya rentan terhadap perpecahan.
Kegagalan paling mendasar para pimpinan partai politik adalah bahwa tak seorang pun dari mereka yang telah membenahi organisasi partai sebagai sarana demokrasi. Pelaksanaan atas demokrasi itu sendiri sampai hari ini juga masih terjadi kekurangan dan adanya penyakit khas yang menjangkit di Indonesia ini, pelaksanaan demokrasi malahan meminta “tumbal”. Orang-orang partai politik banyak melakukan praktek money politic. Di antaranya bahwa partai politik di Indonesia merupakan lembaga terkorup. Dengan kondisi partai politik yang mulai kehilangan basisnya karena
* Yaitu suatu masyarakat yang mandiri, yang mampu mengisi ruang publik sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebihan.
** Gaffar, Afan.1999.Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi.Jakarta:Pustaka Pelajar Indonesia.
partai politik kurang peka dan respek terhadap penderitaan rakyat. Partai politik tak lebih sebagai kendaraan politik menuju singgasana kekuasaan dan politik dagang sapi menjamur. Fenomena itu tentunya disebabkan karena hampir semua partai politik secara historis dibangun atas ”privilege cultural”, sehingga dari sisi kapasitas dan kapabilitasnya masih diragukan. Terbentuknya partai politik juga hanya berangkat dari kepentingan segelintir orang terhadap kekuasaan dan uang, ini terlihat dengan terjadinya kompromi antara pihak pemodal, penguasa, militer dan lain-lain yang secara faktual di luar kapasitasnya. Selain itu bangunan dasar partai politik yang naif dan pragmatis, hal ini juga terlihat jelas ketika partai politik hanya bergerak dan bekerja manakala sedang menghadapi momentum perebutan kekuasaan menguntungkan bagi partai politik. Adanya gejala korupsi yang bersifat sistemik serta ada kecenderungan berpartai politik merupakan satu jenis profesi alternatif untuk mengais rezeki karena mudah mendirikan partai politik. Secara umum partai politik tumbuh di Indonesia bukan berfungsi sebagai sarana pengelola konflik, akan tetapi malah menjadi faktor signifikan dalam menciptakan, memperluas serta meningkatkan bobot konflik. Bukannya menjadi sarana kontrol sosial, namun malah menjadi institusi yang sulit dikontrol.
Akhirnya, partai politik tidak lagi memainkan peran sosoknya sebagai media perjuangan rakyat menuju kesejahteraan, akan tetapi justru menjadi alat untuk memperkaya diri dan memperkokoh posisi. Jika demikian realitasnya, kata ”demokrasi” di negeri ini hanya sebuah slogan bagi para politisi dan penguasa untuk meloloskan niat mereka, rakyat benar-benar berada di ujung tanduk, yang tak mampu berdiri tegak karena sendinya sangat rapuh. Tak ada jalan lain jika kemudian dampaknya seperti ini. langkah-langkah dan strategi partai politik tersebut kebanyakan tidak menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai ideologi politik partai mereka. Langkah-langkah mereka cenderung pragmatis dan oportunis. Dan ironisnya partai politik tidak memiliki peran signifikan dalam mensukseskan pilkada yang jujur, adil, bersih dan aman di berbagai daerah. Sebab di internal partai sendiri masing-masing orang atau kelompok punya kepentingan masing-masing. Ini juga menjadi tolak ukur kegagalan partai politik untuk menanamkan nilai-nilai yang terdapat pada ideologi politik tersebut. Dengan kondisi semacam itu, dimana ada ketimpangan antara ideologi dengan realitas dan antara nilai-nilai dengan langkah-langkah partai politik di Indonesia. Dengan demikian jelaslah bahwa meskipun berada dalam lingkaran luar dalam sistem pembuatan kebijakan, partai politik memegang peranan yang cukup besar. Dengan demikian seharusnya partai politik itu keberadaannya sangat penting dalam proses pembuatan kebijakan publik. Partai politik seringkali tidak berfungsi sebagai penyedia akses bagi penyaluran tuntutan yang absah kepada penguasa, tetapi hanya sebagai elemen dalam strategi persatuan nasional dan pengontrolan pendapat.*
Eksistensi dan peran partai politik dalam proses pembuatan kebijakan sangat lemah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya peran partai politik dalam proses pembuatan publik adalah sistem kepartaian yang dianut oleh negara yang bersangkutan(James Anderson,1984:10). Sampai dengan pelaksanaan pemilihan umum tahun 1997 jumlah partai politik yang ada memang sama dengan yang dicirikan dalam sistem multiparty, tetapi peran partai dalam proses pembuatan kebijakan publik cenderung sama dengan yang ada di negara dengan sistem satu-partai. Dengan demikian partai politik praktis menjadi organ pemerintah di luar birokrasi maka parpol
* Ichlasul Amal.1988.Teori-Teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta:Tiara Wacana.
kehilangan legitimasi di hadapan publik. Perkembangan ini akhirnya mempengaruhi penampilan parpol terutama dalam hal aksesnya terhadap policy making. Fungsi parpol sebagai penyalur aspirasi publik untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan public terkikis oleh peran barunya sebagai organ pemerintah.
Dalam pengertian melakukan perubahan dan penyesuaian struktur politik yang berkaitan erat dengan peran partai politik, antara lain Partai politik merupakan sarana yang sangat efektif dan bersifat legal dalam mewujudkan kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran dalam mengembangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Untuk menjamin berjalannya peran partai politik dalam peningkatan partisipasi politik masyarakat secara optimal, diperlukan keselarasan dan keseimbangan hubungan antar kekuatan sosial politik dan keseimbangan serta keselarasan peran partai politik itu sendiri baik sebagai wadah penyalur aspirasi rakyat, sarana sosialisasi politik, sarana rekrutmen politik, maupun sebagai sarana pengatur konflik tidak lagi mampu mengagregasi (menghimpun) dan mengartikulasi (menyalurkan) aspirasi masyarakat sehingga semakin jauh pula harapan bagi terjadinya konsolidasi demokrasi di tanah air.
Labels:
Politik
Tuesday, July 24, 2012
AFS
Profil Organisasi
AFS adalah salah satu organisasi relawan berbasis komunitas yang tertua dan terbesar di dunia yang merupakan sebuah organisasi nonprofit bentukan Amerika. AFS berawal dari American Field Sevice, sebuah kesatuan relawan asal Amerika yang berinisiatif menjadi supir ambulans untuk mengangkut korban perang dunia pertama dan kedua. Setelah masa tugas mereka dalam perang berakhir, para supir ambulans ini kembali pulang dan mereka mulai memikirkan upaya-upaya untuk perdamaian. Mereka percaya bahwa apabila para pemuda di dunia dapat saling memahami sesamanya, mengenal dan menghargai perbedaan masing-masing, maka mereka dapat menciptakan dunia yang lebih adil dan damai. Program pertukaran yang dimulai oleh para supir ambulans AFS hingga kini mempertemukan keluarga, sekolah dan komunitas di lebih dari 60 negara.
Saat ini, jaringan AFS meluas dan memiliki mitra organisasi di lebih dari 50 negara dan melibatkan hampir 11000 pelajar, pemuda dan guru setiap tahunnya. Sejak 1947 lebih dari 325.000 individu dan keluarga angkat dengan jumlah yang kurang lebih sama telah memperoleh pengalaman AFS. Jumlah pendukung AFS bahkan telah mencapai ratusan ribu orang. AFS memiliki komitmen untuk terus menjadi yang terdepan dalam upaya mempromosikan perdamaian dan sikap toleransi melalui pembelajaran antarbudaya.
Salah satu mitra dari AFS adalah Bina Antarbudaya (the Indonesian Foundation for Intercultural Learning) yang sangat membantu AFS Intercultural Program, didirikan pada tangal 2 Mei 1985 oleh Taufik Ismail, Tanri Abeng, Irid Agoes, Kartono Mohammad, dan Sophie Gunawan Satari. Lahir bertepatan dengan hari pendidikan nasional, Bina Antarbudaya mengambil posisi sebagai organisasi pendidikan di saat kebutuhan terhadap pengenalan budaya lain sangat diperlukan dalam interaksi global.
Program tersebut mempunyai misi turut mewujudkan perdamaian dunia dan bertujuan menciptakan internasional melalui program pertukaran dan pendidikan antarbudaya. Mereka yang hidupnya tersentuh oleh program-program yang tersedia oleh AFS Interculture Program diharapkan dapat menjadi pemimpin yang secara aktif mewujudkan perdamaian dunia dan kerjasama antarbangsa dalam bidang kerja masing-masing. Selain itu dalam program ini berprinsip tidak membedakan agama, ras, pendidikan, latar belakang sosial, ekonomi ataupun kelompok kepentingan tertentu.
Beasiswa AFS sendiri diberikan setelah para kandidat melalui tiga tahab seleksi. Seleksi pertama adalah seleksi administrasi menyangkut surat-surat dari sekolah serta laporan prestasi para kandidat. Seleksi tahab kedua adalah tes pengetahuan umum yang meliputi bahasa inggris, pengetahuan umum, dan essay. Pada proses akhir lebih ke psikotes.
Uniknya, peserta pun setelah terpilih akan diberikan kursus bahasa singkat sesuai dengan negara yang dituju. Satu hal lagi, karena organisasi ini merupakan organisasi nonprofit, tidak ada pungutan biaya sedikitpun dalam keseluruhan program penjaringan peraih beasiswa. Para peraih beasiswa pun mendapat jaminan hidup dan sekolah selama satu tahun penuh, dibiayai oleh pemerintah Amerika serikat.
Tujuan AFS Interculture Program
Berusaha mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang lebih peka paham dan peduli pada lingkungan sekitar. Melalui interaksi dewngan masyarakat negara lain peserta dapat berbagi, berkomunikasi, menghargai dan mencintai satu sama lain diatas segala perbedaan. Kelak diharapakan mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang menghargai perbedaan, menjungjung tinggi perdamaian dan persahabatan, membangun hubungan yang positif dan sinergi antarindividu, antarmasyrakat dan antarbangsa dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.
Bina Antarbudaya memberikan kesempatan bagi para siswa Indonesia untuk dapat tinggal dan belajar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek di berbagai negara antara lain Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Italia, Jepang, Jerman, Norwegia, Prancis dan Swiss.
AFS Year Program
Program AFS sudah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1956. Hingga saat ini AFS telah menukarkan lebih dari 220.000 peserta program dari 54 negara di dunia. Program pertukaran pelajar AFS ini dilakukan dalamn rangka menciptakan saling pengertian dan persahabatan agar terwujud perdamaian dunia.
Program ini memberikan kesempatan bagi para pesertanya untuk belajar tentang hidup dan diri sendiri. Pengalaman yang didapat selama program akan memperkuat kemampuan berbahasa, pengembangan karakter pribadi dan ketrampilan kepemimpinan.
Bina Antarbudaya selalu mengirimkan siswa-siswi terpilih dari seluruh Indonesia untuk mengikuti pertukaran antarbudaya ke manca negara. Sudah lebih dari 200 siswa Indonesia yang dikirim melalui program AFS.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode program : Maret*-Februari**
Untuk tujuan Jepang : Agustus*-Juni**
Untuk negara tujuan Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Italia, Jerman, Norwegia, Prancis dan Swiss.
Kami juga membuka kesempatan seluas-luas bagi kamu yang ingin berpartisiapsi sebagai relawan dalam upaya pro-perdamaian guna membantu mewujudkan perdamaian dunia.
YES program
Youth Exchange and Studi (YES) program adalah program beasiswa penuh yang diberikan oleh masyarakat Amerika Serikat dengan masyarakat negara-negara bermayoritas muslim. Pelajar dari Mesir, Indonesia, Malaysia, Filipina, Turki, India, Saudi Arabia, Ghana dan Thailand akan tinggal dengan keluarga angkat bersekolah dan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah maupun masyarakat di Amerika.
Program YES ini lebih menekankan pada pengembangan ketrampilan kepemimpinan peserta. Siswa diharapkan dapat menjadi duta bangsa yang menjembatani masyarakat Amerika untuk lebih mengenal Indonesia juga sebaliknya sehingga timbul persahabatan dan saling pengertian antara kedua bangsa, ini merupakan modal dasar dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih damai bagi semua.
Program YES di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2003 dan saat ini sudah ada sekitar 300 alumni baik dari sekolah umum maupun poesantren. Menariknya program YES juga memberikan kesempatan bagi siswa yang memiliki keterbatasan/cacat untuk mengikuti program.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode program : Agustus*-Juni**
JENESYS Program
The Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths(JENESYS) adalah program persahabatan Jepang dengan negara-negara di kawasan asia timur yang bertujuan menciptakan dan memperdalam rasa saling pengertian di antara para remaja yang merupakan generasi penerus yang akan berperan penting di masa yang akan datang.
Setiap tahunnya pemerintah Jepang mengundang para pemuda dari negara-negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipines, Singapore, Thailand dan Vietnam), Australia, Cina, India, Selandia Baru dan Korea untuk mengunjungi tempat dan kota yang terkait dengan sistem politik, ekonomi, sosial budaya Jepang.
Program JENESYS ini terdiri atas dua jenis yaitu program JENESYS jangka pendek (dua minggu) yang diberangkatkan pada bulan Desember dan JENESYS year program (sebelas bulan ) diberangkatkan pada bulan Maret.
Program Jenesys jangka pendek juga memberikan kesempatan kepada guru atau kepala sekolah SMA/sederajat untuk berangkat bersama-sama para pelajar ke Jepang. Kesempatan yang sangat baik bagi para pendidik Indonesia untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Jepang dan belajar dari komunitas pendidikan di Jepang.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode prrogram : Desember(Untuk short program)
Maret*-Februari**(Untuk jenesys year program)
Keterangan :
*tahun berikutnyta
**setahun kemudian
Manfaat Mengikuti Program
Selama mengikuti program akan menghadapi hal baru, yang sangat berbeda dari yang biasa dihadapi di tanah air. Hal ini melatih diri untuk lebih peka dan paham serta peduli akan lingkungan sekitar. Dengan sendirinya pola pikir kreatif, kemandirian dan kepercayaan diri akan berkembang.
Jauh dari orangtuamu akan melatih kemandirianmu dalam mengatasi masalah dan mengambil keputusan secara lebih obyektif.
Setelah selesai mengikuti program
Memiliki wawasan yang lebih luas
Memiliki kemampuan berpikir kritis dan obyektif
Menghargai perbedaan, yang mencakup perbedaan pola pikir dan cara hidup.
Timbulnya rasa cinta tanah air dan nasionalisme justru setelah melihat negeri sendiri dari sudut pandang lain.
Di masa yang akan datang
Pengalaman antarbudaya akan membantu dalam kehidupan studi dan karir di masa yang akan datang.
Menjadi orang yang peduli pada masyarakat di lingkungan sekitar dan melakukan upaya-upaya dalam membuat perubahan yang baik dengan cara damai.
Menularkan rasa cinta dan damai dalam masyarakat.
Persyaratannya mengikuti AFS
Siswa SLTA
Umur 15-16 tahun dan duduk di bangku kelas 1(satu) saat mendaftar.
Aktif berorganisasi dan berprestasi dalam beberapa kegiatan.
Warga Negara Indonesia
Sehat jasmani dan rohani.
Mengikuti dan lulus proses seleksi bertahap.
Mendapat izin dari orang tua dan sekolah.
Program PR AFS Yogyakarta 2008
Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia, AFS Yogyakarta juga memiliki kepengurusan AFS tersendiri yang nantinya di tiap akhir kepengurusan akan memberikan laporan akhir tahun kepada pengurus AFS pusat di Jakarta.
Program utama AFS Yogyakarta seperti halnya AFS di propinsi lain adalah pemberian beasiswa bagi sejumlah siswa sekolah menengah umum baik negeri maupun swasta di area DIY-JATENG.
Di bagian kehumasan, tugas utama PR AFS lebih kepada publikasi program-program AFS. Dalam hal ini PR officer AFS melakukan publikasi melalui media serta terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan AFS dan program beasiswa.
A. Publikasi melalui Media Massa
Pekerjaan PR paling awal di AFS adalah publikasi program beasiswa AFS melalui media massa. Dalam hal ini, AFS menggunakan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat sebagai patner publikasi mereka.
Sayangnya, hingga kini info program beasiswa AFS masih di tempatkan di kolom surat pembaca. Namun demikian, menurut Lituhayu, publikasi lewat koran Kedaulatan Rakyat ini cukup memberi hasil positif. Terbukti dari pengakuan sejumlah peserta yang mengaku mendapat informasi mengenai AFS dari koran KR.
Selain memanfaatkan kolom surat pembaca di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, AFS Yogyakarta juga memiliki site tersendiri yang bisa diakses jika kita membuka website AFS pusat. Lewat site ini, AFS Yogyakarta mengumumkan setiap kalender event yang akan mereka adakan.
B. Kunjungan Sekolah
Kunjungan ke sekolah-sekolah secara tidak langsung untuk memperkenalkan AFS dan programnya juga merupakan pekerjaan yang dihandle langsung oleh bagian PR. Kunjungan ini dilaksanakan di beberapa sekolah di daerah Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah.
Kekuarangan program ini adalah tidak begitu terjangkaunya seluruh sekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seringkali, kunjungan ke beberapa sekolah batal. Dan selain itu program ini hanya bisa menjangkau sekolah-sekolah di kawasan perkotaan saja sedangkan sekolah-sekolah pedesaan yang juga memiliki banyak kandidat peraih beasiswa tidak mendapatkan kesempatan.
Target dari program ini sebenarnya adalah keseluruhan siswa sekolah menengah atas di seluruh wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Akan tetapi, program ini terkadang tidak sesuai target dikarenakan keterbatasan-keterbatasan tertentu.
C. Publication Package
Publication package adalah program baru yang digagas oleh Lituhayu selaku PR Officer AFS. Publication package merupankan jawaban atas masalah tidak terjangkaunya sebagian sekolah.
Publication package merupakan bentuk publikasi AFS secara tertulis yang nantinya dikirim ke seluruh sekolah sekolah di dareah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk bagian ini, Lituhayu bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Indonesia untuk mendata setiap sekolah yang berada di Yogyakarta dan Jawa tengah, agar tidak ada satu SMU yang terlewatkan.
Publication package dibuat serinci mungkin sebagai panduan bagi sekolah-sekolah mengenai program beasiswa AFS. Menurut Lituhayu, publication package terbukti mampu membantu AFS menjaring peserta beasiswa dari wilayah-wilayah pedesaan.
Sebagai pelengkap dari program-program publikasi sebelumnya, target dari program publication package ini adalah seluruh siswa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tidak hanya wilayah yang mudah dijangkau tetapi juga di sebagian wilayah yang sulit dijangkau.
D. Maintaining Relatioship with Alumni
Ini merupakan pekerjaan PR yang lebih bersifat internal dan untuk itu bagian PR AFS bekerja sama dengan bagian HRD.
PR team AFS mengadakan sejumlah acara dalam rangka mempererat hubungan antarelemen yang pernah bergabung dengan AFS. Misalnya saja, diadakan rekreasi antara pengurus AFS tahun ini dengan penguus tahun sebelumnya.
Target utama program ini adalah untuk mempertahankan hubungan baik antara pengurus AFS dengan alumni juga dengan mereka-mereka tyang dulunya memperoleh beasiswa AFS namun tidak aktif sebagai pengurus.
Kegiatan PR
Rencana
Tiap program PR AFS selalu dibahas bersama seluruh pengurus AFS di awal kepegurusan. Di tahab awal ini, masing-masing divisi, termasuk divisi PR akan mengajukan program mereka dan untuk kemudian dibahas bersama seluruh pengurus dalam rapat akbar.
Model seperti ini memungkinkan adanya sharing pendapat mengenai cara yang terbaik untuk tiap program yang diajukan. Karena diputuskan bersama-sama, seringkali jika terjadi ketidaktepatan cara yang digunakan atau program yang dijalankan, kesalahan tidak akan hanya ditimpakan pada divisi PR di AFS.
Biaya di peroleh keseluruhan dari Amerika yang berasal dari donatur-donatur yang bersedia menyisihkan dananya untuk pendidikan dan perdamaian dunia. Selanjutnya akan diturunkan kepada AFS pusat di Indonesia dan dibagi-bagikan ke seluruh Indonesia. Di Yogyakarta sendiri sudah di tetapkan berapa besar untuk kegiatan PR hanya saja PRO harus membuat perencanaan dalam pelaksanaan AFS pada suatu tahun, tetapi bentuk sejenis proposal pengajuan dana ini tidak seformal pada organisasi lain, hanya berisi program apa yang akan dijalankan dan estimasi dana. Lalu hal itu dipresentasikan di depan pengurus AFS yang lain unuk disetujui dan selanjutnya dicairkan dananya untuk segera melaksanakan program yang telah dicanangkan.
Karena ada masalah mengenai kurang tentramnya dunia mengenai isu perdamaian dunia yang terlihat dari banyaknya perang yang ada maka terciptalah suatu tujuan untuk berusaha mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang lebih peka paham dan peduli pada lingkungan sekitar. Melalui interaksi dengan masyarakat negara lain peserta dapat berbagi, berkomunikasi, menghargai dan mencintai satu sama lain di atas segala perbedaan. Kelak diharapkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang menghargai perbedaan, menjunjung tinggi perdamaian dan persahabatan, membangun hubungan yang positif dan sinergi antarindividu, antarmasyrakat dan antarbangsa dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesahteraan umat manusia. Maka di tetapkanlah suatu strategi yaitu merencanakan pengadaan AFS Interculture program, program kebudayaan atau pertukaran budaya yang didasari pendidikan.
Untuk melancarkan program tersebut maka digandenglah Surat Kabar Kedaulatan Rakyat khusus wilayah Yogyakarta dan sekitarnya untuk mengenalkan AFS dan program-program yang ada.
Action strateginya atau stategi tindakan yang nyata dan bermanfaat disusun dengan membuat publik aware terhadap AFS dan program-programnya tersebut dengan mendatangi sekolah-sekolah tapi belum sepenuhnya dapat didatangi karena kendala lokasi, waktu dan biaya. Oleh karena itu pada tahun ini tepatnya bulan Maret diadakan program baru dalam membuat mereka mengetahui semua mengenai AFS yang dirasa lebih efektif dan efisien. Strategi tindakan tidak terlepas dari kebutuhan sumber daya yang tidak sedikit maka sumber daya di dapat dari orang-orang yang pernah menerima beasiswa, karena organisasi ini merupakan orgnasasi nonprofit maka tidak ada gaji untuk para pengurusnya, mereka bekerja dengan suka rela sebagai bentuk balas budi karena telah memberikan pengalaman berharga saat mendapatkan beasiswa. Dari sudut strategi komunikasi, pesan yang disampaikan adalah mengenai program AFS yang diharapkan keikutsertaan dari segmentasi publik yang telah ditetapkan yaitu siswa SMA umur 15-16 tahun yang saat mendaftar masih duduk di kelas 1. Faktor penentu keberhasilan komunikasi pesan adalah ada peningkatan pendaftar dari tahun ke tahun. Strategi taktik juga tak lepas dari strategi maka dipilih media yang lekat dengan publik yaitu Kedaulatan Rakyat. Seperti telah disampaikan di awal bahwa AFS dalam melaksanakan programnya tidak sendiri tetapi juga melibatkan pihak-pihak berkompeten seperti Bina Antarbudaya yang visi misinya sama dengan AFS.
Implementasi
Program kehumasan AFS yang dijalankan saat ini hampir mencapai 100%. Setelah masa kepengurusan dimulai, sekitar awal Februari, AFS memulai publikasi lewat koran dan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah. Untuk kemudian sekitar Maret 2008 ini, mulai mengirimkan publication package ke sekolah-sekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sekitar pertengahan maret seleksi tahab awal dimulai. Dan saat ini, seleksi tahab kedua sedang berjalan.
Untuk program internal PR, tim PR AFS merencanakan setelah keseluruhan seleksi selesai dan terpilih peraih beasiswa.
Implementasi atau pelaksanaan program di AFS berdasarkan visi misi organisasi tak lepas dari keadaaan lingkungan di dunia saat ini, pada lingkup kecil AFS melihat banyak keinginan generasi muda untuk belajar mengenai berbagai macam hal di negara lain.
Mengenai masalah jangkauan untuk menyosialisasikan program-program AFS diadakan tindakan baru berupa publication package berbentuk pembuatan buku mengenai AFS terutama pada sekolah-sekolah yang kurang dapat dijangkau untuk diadakan kunjungan.
Pelaksaana program di AFS tidak terlepas dari kehidupan publik ynag butuh suatu sarana untuk memperoleh pengalaman baru yang sangat bermanfaat dengan mengikuti program-program yang diadakan AFS.
Program AFS tidak berhenti pada suatu waktu tetapi selalu ada kelanjutan dengan berbagai variasi program dan materi-materi dalam pertukaran pelajar. Untuk memudahkan publik memperoleh informasi, AFS menyediakan layanan informasi dari berbagai bentuk, seperti di kolom surat pembaca Kedaulatan Rakyat, website, buku yang di beri di sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan maka kecil kemungkinan ada sekolah yang terlewati., kunjungan ke sekolah, dan lain-lain.
Evaluasi
Evaluasi program AFS selalu dilaksanakan setelah program terlaksana. Biasanya diawali dengan rapat umum seluruh pengurus cabang Yogyakarta kemudian laporan akan dikirim kepada pengurus pusat di Jakarta.
Menurut Lituhayu, sejauh ini ia melihat program PR yang dijalankan cukup berhasil. Terutama dalam hal menjaring peserta dari dalam kota maupun pedesaan. Keberhasilan program PR juga dapat dilihat dari membludaknya jumlah peserta yang mengikuti seleksi penerimaan beasiwa AFS dari 250 ke angka 650 peserta.
Ke depannya yang ingin diperbaiki adalah publikasi melalui media massa. Saat ini pihak AFS sendiri telah mengupayakan agar AFS mendapat kolom promosi tersendiri di Kedaulatan Rakyat atau koran-koran lokal lainya.
Analisis Mengenai Kegiatan PR
Perencanaan
Perencanaan di AFS antara masalah dengan tujuan sudah sesuai. Strategi tindakan nyatanya bermakna bagi masyarakat terutama segmentasi program yaitu siswa SMA kelas 1. Pencanangan program yang ada disertai publikasinya sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada berupa kesulitannya mengunjungi sekolah seluruh Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan ada program baru yang dicanangkan lebih memudahkan tersosialisainya program AFS. Kebutuhan sumber daya tidak terlalu sulit di peroleh karena seakan telah tersistem bahwa peserta pertukaran pelajar terdahulu akan mencari siapa yang calon peserta berikutnya dengan kata lain terlibat dalam kepengurusan. Dilihat dari sisi strategi komunikasi mengenai pesan yang disampaikan sudah dapat dikatakan berhasil atau pesan yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat, hal itu dapat dilihat dari respon pendaftar yang tidak pernah menurun, selain itu kualitas dan kuantitas pesan juga cukup seimbang sehingga tidak ada ketimpangan yang berarti, isi pesan sederhana tetapi mencakup informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Kesesuaian pesan dalam pembentukan strategi dan taktik berbanding lurus dan sejalan. Pihak-pihak yang berkompeten tidak lepas dari perencanaan program agar lebih membantu dan melancarkan dalam pelaksanaan.
Penyusunan anggaran di AFS sebenarnya sudah ditetapkan tetapi juga berdasarkan dari poposal pengajuan dan presentasi yang dilakukan jadi ada penyesuaian anggaran.
Implementsi
Distribusi pesan yang dilakukan AFS sampai saat ini berlangsung baik, penyebarannya sesuai dengan segmentasi publik yaitu ke sekolah-sekolah seluruh Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pelaksanaan program AFS berdasarkan keinginan atau harapan publik terhadap organisasi yang sejalan dengan visi misi AFS, informasi yang didapat oleh publik juga tidak pernah ada yang tidak benar, semuanya dijelaskan secara jujur dan ditujukan kepda masyarakat untuk memberikan pelayanan penuh pada publik.
Masalah konteks program dalam pelaksanaan ini telah sesuai dengan lingkungan hanya saja kegiatan PR yang sesungguhnya belum dapat terlihat, karena tugas PR di sini hanya mempublikasi AFS dan program-programnya, padahal media massa hanya sebagai pelengkap atau pendukung kegiatan PR sedangkan di AFS itu merupakan tugas utama PR. Namun dukungan lingkungan sangat merespon baik dan ditindaklanjuti dengan keterlibatan partisipasi hanya saja bukan sebagi penyelenggra tetapi sebatas peserta.
Isi program yang dilakukan telah mempunyai relevansi dengan kehidupan publik, pesan yang disampaikan membawa manfaat bagi masyarakat dan sesuai dengan sistem nilai yang berkembang, karena manfaat yang diperoleh dari program AFS maka banyak yang mendaftarkan diri menjadi peserta beasiswa.
Kejelasan program mengenai pesan didesain sederhana dan mudah dipahami serta tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara AFS dan masyarakat. Pesan mudah diterima oleh masyarakat.
Kesinambungan dan konsisten program yang dijalankan sampai saat ini tidak pernah terputus jadi setuip tahun diadakan program pertukaran pelajar hanya materi dan tempat divariasikan agar tidak bosan dan membuat suasana baru. Meskipun mempunyai variasi tetapi alur yang berlangsung tidak pernah berada di luar program yang dtetapkan. Saluran komunikasi yang digunakan AFS seperti media massa lebih disesuaikan pada karakter kota Yogyakarta dengan koran Kedaulatan Rakyat-nya yang dianggap sangat dekat dengan masyarakat meskipun dapat diperoleh di luar Yogyakarta tetapi kedekatan dengan masyarakat luar Yogyakarta kurang sehingga sedikit kurang efektif.
Mengenai kemampuan publik dalam implementasi program dalam penyampaian pesan telah disesuaikan dengan karakter publik yang segmentasinya siswa SMA sehingga penyampaiannya selalu diusahakan dengan bahasa yang mudah mereka pahami. Dan berbagai media penyampaian pesan diupayakan semaksimal mungkin agar informasi yang dperlukan masyarakat dapat dengan mudah diperoleh masyarakat.
Evaluasi
Meskipun pencapaian tujuan utama dengan hasil yang diperoleh mengenai perdamaain dunia tetapi paling tidak memberikan gambaran dan pelajaran bagi para peserta penerima beasiswa mengenai kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan mereka yang patut untuk dijaga bersama-sama bukan untuk menjadi ajang permusuhan. Namun capaian hasil yang diperoleh atau target pendaftar telah terpenuhi bahkan sampai jauh diatas target yang ditentukan. Hal itu dapat terukur, terlihat dari jumlah peserta seleksi dari 250 melejit ke angka 650.
Dapat dikatakan citra AFS semakin baik melihat peminat semakin banyak dari tahun ke tahun.
AFS adalah salah satu organisasi relawan berbasis komunitas yang tertua dan terbesar di dunia yang merupakan sebuah organisasi nonprofit bentukan Amerika. AFS berawal dari American Field Sevice, sebuah kesatuan relawan asal Amerika yang berinisiatif menjadi supir ambulans untuk mengangkut korban perang dunia pertama dan kedua. Setelah masa tugas mereka dalam perang berakhir, para supir ambulans ini kembali pulang dan mereka mulai memikirkan upaya-upaya untuk perdamaian. Mereka percaya bahwa apabila para pemuda di dunia dapat saling memahami sesamanya, mengenal dan menghargai perbedaan masing-masing, maka mereka dapat menciptakan dunia yang lebih adil dan damai. Program pertukaran yang dimulai oleh para supir ambulans AFS hingga kini mempertemukan keluarga, sekolah dan komunitas di lebih dari 60 negara.
Saat ini, jaringan AFS meluas dan memiliki mitra organisasi di lebih dari 50 negara dan melibatkan hampir 11000 pelajar, pemuda dan guru setiap tahunnya. Sejak 1947 lebih dari 325.000 individu dan keluarga angkat dengan jumlah yang kurang lebih sama telah memperoleh pengalaman AFS. Jumlah pendukung AFS bahkan telah mencapai ratusan ribu orang. AFS memiliki komitmen untuk terus menjadi yang terdepan dalam upaya mempromosikan perdamaian dan sikap toleransi melalui pembelajaran antarbudaya.
Salah satu mitra dari AFS adalah Bina Antarbudaya (the Indonesian Foundation for Intercultural Learning) yang sangat membantu AFS Intercultural Program, didirikan pada tangal 2 Mei 1985 oleh Taufik Ismail, Tanri Abeng, Irid Agoes, Kartono Mohammad, dan Sophie Gunawan Satari. Lahir bertepatan dengan hari pendidikan nasional, Bina Antarbudaya mengambil posisi sebagai organisasi pendidikan di saat kebutuhan terhadap pengenalan budaya lain sangat diperlukan dalam interaksi global.
Program tersebut mempunyai misi turut mewujudkan perdamaian dunia dan bertujuan menciptakan internasional melalui program pertukaran dan pendidikan antarbudaya. Mereka yang hidupnya tersentuh oleh program-program yang tersedia oleh AFS Interculture Program diharapkan dapat menjadi pemimpin yang secara aktif mewujudkan perdamaian dunia dan kerjasama antarbangsa dalam bidang kerja masing-masing. Selain itu dalam program ini berprinsip tidak membedakan agama, ras, pendidikan, latar belakang sosial, ekonomi ataupun kelompok kepentingan tertentu.
Beasiswa AFS sendiri diberikan setelah para kandidat melalui tiga tahab seleksi. Seleksi pertama adalah seleksi administrasi menyangkut surat-surat dari sekolah serta laporan prestasi para kandidat. Seleksi tahab kedua adalah tes pengetahuan umum yang meliputi bahasa inggris, pengetahuan umum, dan essay. Pada proses akhir lebih ke psikotes.
Uniknya, peserta pun setelah terpilih akan diberikan kursus bahasa singkat sesuai dengan negara yang dituju. Satu hal lagi, karena organisasi ini merupakan organisasi nonprofit, tidak ada pungutan biaya sedikitpun dalam keseluruhan program penjaringan peraih beasiswa. Para peraih beasiswa pun mendapat jaminan hidup dan sekolah selama satu tahun penuh, dibiayai oleh pemerintah Amerika serikat.
Tujuan AFS Interculture Program
Berusaha mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang lebih peka paham dan peduli pada lingkungan sekitar. Melalui interaksi dewngan masyarakat negara lain peserta dapat berbagi, berkomunikasi, menghargai dan mencintai satu sama lain diatas segala perbedaan. Kelak diharapakan mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang menghargai perbedaan, menjungjung tinggi perdamaian dan persahabatan, membangun hubungan yang positif dan sinergi antarindividu, antarmasyrakat dan antarbangsa dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.
Bina Antarbudaya memberikan kesempatan bagi para siswa Indonesia untuk dapat tinggal dan belajar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek di berbagai negara antara lain Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Italia, Jepang, Jerman, Norwegia, Prancis dan Swiss.
AFS Year Program
Program AFS sudah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1956. Hingga saat ini AFS telah menukarkan lebih dari 220.000 peserta program dari 54 negara di dunia. Program pertukaran pelajar AFS ini dilakukan dalamn rangka menciptakan saling pengertian dan persahabatan agar terwujud perdamaian dunia.
Program ini memberikan kesempatan bagi para pesertanya untuk belajar tentang hidup dan diri sendiri. Pengalaman yang didapat selama program akan memperkuat kemampuan berbahasa, pengembangan karakter pribadi dan ketrampilan kepemimpinan.
Bina Antarbudaya selalu mengirimkan siswa-siswi terpilih dari seluruh Indonesia untuk mengikuti pertukaran antarbudaya ke manca negara. Sudah lebih dari 200 siswa Indonesia yang dikirim melalui program AFS.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode program : Maret*-Februari**
Untuk tujuan Jepang : Agustus*-Juni**
Untuk negara tujuan Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Italia, Jerman, Norwegia, Prancis dan Swiss.
Kami juga membuka kesempatan seluas-luas bagi kamu yang ingin berpartisiapsi sebagai relawan dalam upaya pro-perdamaian guna membantu mewujudkan perdamaian dunia.
YES program
Youth Exchange and Studi (YES) program adalah program beasiswa penuh yang diberikan oleh masyarakat Amerika Serikat dengan masyarakat negara-negara bermayoritas muslim. Pelajar dari Mesir, Indonesia, Malaysia, Filipina, Turki, India, Saudi Arabia, Ghana dan Thailand akan tinggal dengan keluarga angkat bersekolah dan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah maupun masyarakat di Amerika.
Program YES ini lebih menekankan pada pengembangan ketrampilan kepemimpinan peserta. Siswa diharapkan dapat menjadi duta bangsa yang menjembatani masyarakat Amerika untuk lebih mengenal Indonesia juga sebaliknya sehingga timbul persahabatan dan saling pengertian antara kedua bangsa, ini merupakan modal dasar dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih damai bagi semua.
Program YES di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2003 dan saat ini sudah ada sekitar 300 alumni baik dari sekolah umum maupun poesantren. Menariknya program YES juga memberikan kesempatan bagi siswa yang memiliki keterbatasan/cacat untuk mengikuti program.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode program : Agustus*-Juni**
JENESYS Program
The Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths(JENESYS) adalah program persahabatan Jepang dengan negara-negara di kawasan asia timur yang bertujuan menciptakan dan memperdalam rasa saling pengertian di antara para remaja yang merupakan generasi penerus yang akan berperan penting di masa yang akan datang.
Setiap tahunnya pemerintah Jepang mengundang para pemuda dari negara-negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipines, Singapore, Thailand dan Vietnam), Australia, Cina, India, Selandia Baru dan Korea untuk mengunjungi tempat dan kota yang terkait dengan sistem politik, ekonomi, sosial budaya Jepang.
Program JENESYS ini terdiri atas dua jenis yaitu program JENESYS jangka pendek (dua minggu) yang diberangkatkan pada bulan Desember dan JENESYS year program (sebelas bulan ) diberangkatkan pada bulan Maret.
Program Jenesys jangka pendek juga memberikan kesempatan kepada guru atau kepala sekolah SMA/sederajat untuk berangkat bersama-sama para pelajar ke Jepang. Kesempatan yang sangat baik bagi para pendidik Indonesia untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Jepang dan belajar dari komunitas pendidikan di Jepang.
Periode pendaftaran : April-Mei
Periode prrogram : Desember(Untuk short program)
Maret*-Februari**(Untuk jenesys year program)
Keterangan :
*tahun berikutnyta
**setahun kemudian
Manfaat Mengikuti Program
Selama mengikuti program akan menghadapi hal baru, yang sangat berbeda dari yang biasa dihadapi di tanah air. Hal ini melatih diri untuk lebih peka dan paham serta peduli akan lingkungan sekitar. Dengan sendirinya pola pikir kreatif, kemandirian dan kepercayaan diri akan berkembang.
Jauh dari orangtuamu akan melatih kemandirianmu dalam mengatasi masalah dan mengambil keputusan secara lebih obyektif.
Setelah selesai mengikuti program
Memiliki wawasan yang lebih luas
Memiliki kemampuan berpikir kritis dan obyektif
Menghargai perbedaan, yang mencakup perbedaan pola pikir dan cara hidup.
Timbulnya rasa cinta tanah air dan nasionalisme justru setelah melihat negeri sendiri dari sudut pandang lain.
Di masa yang akan datang
Pengalaman antarbudaya akan membantu dalam kehidupan studi dan karir di masa yang akan datang.
Menjadi orang yang peduli pada masyarakat di lingkungan sekitar dan melakukan upaya-upaya dalam membuat perubahan yang baik dengan cara damai.
Menularkan rasa cinta dan damai dalam masyarakat.
Persyaratannya mengikuti AFS
Siswa SLTA
Umur 15-16 tahun dan duduk di bangku kelas 1(satu) saat mendaftar.
Aktif berorganisasi dan berprestasi dalam beberapa kegiatan.
Warga Negara Indonesia
Sehat jasmani dan rohani.
Mengikuti dan lulus proses seleksi bertahap.
Mendapat izin dari orang tua dan sekolah.
Program PR AFS Yogyakarta 2008
Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia, AFS Yogyakarta juga memiliki kepengurusan AFS tersendiri yang nantinya di tiap akhir kepengurusan akan memberikan laporan akhir tahun kepada pengurus AFS pusat di Jakarta.
Program utama AFS Yogyakarta seperti halnya AFS di propinsi lain adalah pemberian beasiswa bagi sejumlah siswa sekolah menengah umum baik negeri maupun swasta di area DIY-JATENG.
Di bagian kehumasan, tugas utama PR AFS lebih kepada publikasi program-program AFS. Dalam hal ini PR officer AFS melakukan publikasi melalui media serta terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan AFS dan program beasiswa.
A. Publikasi melalui Media Massa
Pekerjaan PR paling awal di AFS adalah publikasi program beasiswa AFS melalui media massa. Dalam hal ini, AFS menggunakan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat sebagai patner publikasi mereka.
Sayangnya, hingga kini info program beasiswa AFS masih di tempatkan di kolom surat pembaca. Namun demikian, menurut Lituhayu, publikasi lewat koran Kedaulatan Rakyat ini cukup memberi hasil positif. Terbukti dari pengakuan sejumlah peserta yang mengaku mendapat informasi mengenai AFS dari koran KR.
Selain memanfaatkan kolom surat pembaca di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, AFS Yogyakarta juga memiliki site tersendiri yang bisa diakses jika kita membuka website AFS pusat. Lewat site ini, AFS Yogyakarta mengumumkan setiap kalender event yang akan mereka adakan.
B. Kunjungan Sekolah
Kunjungan ke sekolah-sekolah secara tidak langsung untuk memperkenalkan AFS dan programnya juga merupakan pekerjaan yang dihandle langsung oleh bagian PR. Kunjungan ini dilaksanakan di beberapa sekolah di daerah Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah.
Kekuarangan program ini adalah tidak begitu terjangkaunya seluruh sekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seringkali, kunjungan ke beberapa sekolah batal. Dan selain itu program ini hanya bisa menjangkau sekolah-sekolah di kawasan perkotaan saja sedangkan sekolah-sekolah pedesaan yang juga memiliki banyak kandidat peraih beasiswa tidak mendapatkan kesempatan.
Target dari program ini sebenarnya adalah keseluruhan siswa sekolah menengah atas di seluruh wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Akan tetapi, program ini terkadang tidak sesuai target dikarenakan keterbatasan-keterbatasan tertentu.
C. Publication Package
Publication package adalah program baru yang digagas oleh Lituhayu selaku PR Officer AFS. Publication package merupankan jawaban atas masalah tidak terjangkaunya sebagian sekolah.
Publication package merupakan bentuk publikasi AFS secara tertulis yang nantinya dikirim ke seluruh sekolah sekolah di dareah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk bagian ini, Lituhayu bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Indonesia untuk mendata setiap sekolah yang berada di Yogyakarta dan Jawa tengah, agar tidak ada satu SMU yang terlewatkan.
Publication package dibuat serinci mungkin sebagai panduan bagi sekolah-sekolah mengenai program beasiswa AFS. Menurut Lituhayu, publication package terbukti mampu membantu AFS menjaring peserta beasiswa dari wilayah-wilayah pedesaan.
Sebagai pelengkap dari program-program publikasi sebelumnya, target dari program publication package ini adalah seluruh siswa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tidak hanya wilayah yang mudah dijangkau tetapi juga di sebagian wilayah yang sulit dijangkau.
D. Maintaining Relatioship with Alumni
Ini merupakan pekerjaan PR yang lebih bersifat internal dan untuk itu bagian PR AFS bekerja sama dengan bagian HRD.
PR team AFS mengadakan sejumlah acara dalam rangka mempererat hubungan antarelemen yang pernah bergabung dengan AFS. Misalnya saja, diadakan rekreasi antara pengurus AFS tahun ini dengan penguus tahun sebelumnya.
Target utama program ini adalah untuk mempertahankan hubungan baik antara pengurus AFS dengan alumni juga dengan mereka-mereka tyang dulunya memperoleh beasiswa AFS namun tidak aktif sebagai pengurus.
Kegiatan PR
Rencana
Tiap program PR AFS selalu dibahas bersama seluruh pengurus AFS di awal kepegurusan. Di tahab awal ini, masing-masing divisi, termasuk divisi PR akan mengajukan program mereka dan untuk kemudian dibahas bersama seluruh pengurus dalam rapat akbar.
Model seperti ini memungkinkan adanya sharing pendapat mengenai cara yang terbaik untuk tiap program yang diajukan. Karena diputuskan bersama-sama, seringkali jika terjadi ketidaktepatan cara yang digunakan atau program yang dijalankan, kesalahan tidak akan hanya ditimpakan pada divisi PR di AFS.
Biaya di peroleh keseluruhan dari Amerika yang berasal dari donatur-donatur yang bersedia menyisihkan dananya untuk pendidikan dan perdamaian dunia. Selanjutnya akan diturunkan kepada AFS pusat di Indonesia dan dibagi-bagikan ke seluruh Indonesia. Di Yogyakarta sendiri sudah di tetapkan berapa besar untuk kegiatan PR hanya saja PRO harus membuat perencanaan dalam pelaksanaan AFS pada suatu tahun, tetapi bentuk sejenis proposal pengajuan dana ini tidak seformal pada organisasi lain, hanya berisi program apa yang akan dijalankan dan estimasi dana. Lalu hal itu dipresentasikan di depan pengurus AFS yang lain unuk disetujui dan selanjutnya dicairkan dananya untuk segera melaksanakan program yang telah dicanangkan.
Karena ada masalah mengenai kurang tentramnya dunia mengenai isu perdamaian dunia yang terlihat dari banyaknya perang yang ada maka terciptalah suatu tujuan untuk berusaha mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang lebih peka paham dan peduli pada lingkungan sekitar. Melalui interaksi dengan masyarakat negara lain peserta dapat berbagi, berkomunikasi, menghargai dan mencintai satu sama lain di atas segala perbedaan. Kelak diharapkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang menghargai perbedaan, menjunjung tinggi perdamaian dan persahabatan, membangun hubungan yang positif dan sinergi antarindividu, antarmasyrakat dan antarbangsa dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesahteraan umat manusia. Maka di tetapkanlah suatu strategi yaitu merencanakan pengadaan AFS Interculture program, program kebudayaan atau pertukaran budaya yang didasari pendidikan.
Untuk melancarkan program tersebut maka digandenglah Surat Kabar Kedaulatan Rakyat khusus wilayah Yogyakarta dan sekitarnya untuk mengenalkan AFS dan program-program yang ada.
Action strateginya atau stategi tindakan yang nyata dan bermanfaat disusun dengan membuat publik aware terhadap AFS dan program-programnya tersebut dengan mendatangi sekolah-sekolah tapi belum sepenuhnya dapat didatangi karena kendala lokasi, waktu dan biaya. Oleh karena itu pada tahun ini tepatnya bulan Maret diadakan program baru dalam membuat mereka mengetahui semua mengenai AFS yang dirasa lebih efektif dan efisien. Strategi tindakan tidak terlepas dari kebutuhan sumber daya yang tidak sedikit maka sumber daya di dapat dari orang-orang yang pernah menerima beasiswa, karena organisasi ini merupakan orgnasasi nonprofit maka tidak ada gaji untuk para pengurusnya, mereka bekerja dengan suka rela sebagai bentuk balas budi karena telah memberikan pengalaman berharga saat mendapatkan beasiswa. Dari sudut strategi komunikasi, pesan yang disampaikan adalah mengenai program AFS yang diharapkan keikutsertaan dari segmentasi publik yang telah ditetapkan yaitu siswa SMA umur 15-16 tahun yang saat mendaftar masih duduk di kelas 1. Faktor penentu keberhasilan komunikasi pesan adalah ada peningkatan pendaftar dari tahun ke tahun. Strategi taktik juga tak lepas dari strategi maka dipilih media yang lekat dengan publik yaitu Kedaulatan Rakyat. Seperti telah disampaikan di awal bahwa AFS dalam melaksanakan programnya tidak sendiri tetapi juga melibatkan pihak-pihak berkompeten seperti Bina Antarbudaya yang visi misinya sama dengan AFS.
Implementasi
Program kehumasan AFS yang dijalankan saat ini hampir mencapai 100%. Setelah masa kepengurusan dimulai, sekitar awal Februari, AFS memulai publikasi lewat koran dan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah. Untuk kemudian sekitar Maret 2008 ini, mulai mengirimkan publication package ke sekolah-sekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sekitar pertengahan maret seleksi tahab awal dimulai. Dan saat ini, seleksi tahab kedua sedang berjalan.
Untuk program internal PR, tim PR AFS merencanakan setelah keseluruhan seleksi selesai dan terpilih peraih beasiswa.
Implementasi atau pelaksanaan program di AFS berdasarkan visi misi organisasi tak lepas dari keadaaan lingkungan di dunia saat ini, pada lingkup kecil AFS melihat banyak keinginan generasi muda untuk belajar mengenai berbagai macam hal di negara lain.
Mengenai masalah jangkauan untuk menyosialisasikan program-program AFS diadakan tindakan baru berupa publication package berbentuk pembuatan buku mengenai AFS terutama pada sekolah-sekolah yang kurang dapat dijangkau untuk diadakan kunjungan.
Pelaksaana program di AFS tidak terlepas dari kehidupan publik ynag butuh suatu sarana untuk memperoleh pengalaman baru yang sangat bermanfaat dengan mengikuti program-program yang diadakan AFS.
Program AFS tidak berhenti pada suatu waktu tetapi selalu ada kelanjutan dengan berbagai variasi program dan materi-materi dalam pertukaran pelajar. Untuk memudahkan publik memperoleh informasi, AFS menyediakan layanan informasi dari berbagai bentuk, seperti di kolom surat pembaca Kedaulatan Rakyat, website, buku yang di beri di sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan maka kecil kemungkinan ada sekolah yang terlewati., kunjungan ke sekolah, dan lain-lain.
Evaluasi
Evaluasi program AFS selalu dilaksanakan setelah program terlaksana. Biasanya diawali dengan rapat umum seluruh pengurus cabang Yogyakarta kemudian laporan akan dikirim kepada pengurus pusat di Jakarta.
Menurut Lituhayu, sejauh ini ia melihat program PR yang dijalankan cukup berhasil. Terutama dalam hal menjaring peserta dari dalam kota maupun pedesaan. Keberhasilan program PR juga dapat dilihat dari membludaknya jumlah peserta yang mengikuti seleksi penerimaan beasiwa AFS dari 250 ke angka 650 peserta.
Ke depannya yang ingin diperbaiki adalah publikasi melalui media massa. Saat ini pihak AFS sendiri telah mengupayakan agar AFS mendapat kolom promosi tersendiri di Kedaulatan Rakyat atau koran-koran lokal lainya.
Analisis Mengenai Kegiatan PR
Perencanaan
Perencanaan di AFS antara masalah dengan tujuan sudah sesuai. Strategi tindakan nyatanya bermakna bagi masyarakat terutama segmentasi program yaitu siswa SMA kelas 1. Pencanangan program yang ada disertai publikasinya sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada berupa kesulitannya mengunjungi sekolah seluruh Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan ada program baru yang dicanangkan lebih memudahkan tersosialisainya program AFS. Kebutuhan sumber daya tidak terlalu sulit di peroleh karena seakan telah tersistem bahwa peserta pertukaran pelajar terdahulu akan mencari siapa yang calon peserta berikutnya dengan kata lain terlibat dalam kepengurusan. Dilihat dari sisi strategi komunikasi mengenai pesan yang disampaikan sudah dapat dikatakan berhasil atau pesan yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat, hal itu dapat dilihat dari respon pendaftar yang tidak pernah menurun, selain itu kualitas dan kuantitas pesan juga cukup seimbang sehingga tidak ada ketimpangan yang berarti, isi pesan sederhana tetapi mencakup informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Kesesuaian pesan dalam pembentukan strategi dan taktik berbanding lurus dan sejalan. Pihak-pihak yang berkompeten tidak lepas dari perencanaan program agar lebih membantu dan melancarkan dalam pelaksanaan.
Penyusunan anggaran di AFS sebenarnya sudah ditetapkan tetapi juga berdasarkan dari poposal pengajuan dan presentasi yang dilakukan jadi ada penyesuaian anggaran.
Implementsi
Distribusi pesan yang dilakukan AFS sampai saat ini berlangsung baik, penyebarannya sesuai dengan segmentasi publik yaitu ke sekolah-sekolah seluruh Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pelaksanaan program AFS berdasarkan keinginan atau harapan publik terhadap organisasi yang sejalan dengan visi misi AFS, informasi yang didapat oleh publik juga tidak pernah ada yang tidak benar, semuanya dijelaskan secara jujur dan ditujukan kepda masyarakat untuk memberikan pelayanan penuh pada publik.
Masalah konteks program dalam pelaksanaan ini telah sesuai dengan lingkungan hanya saja kegiatan PR yang sesungguhnya belum dapat terlihat, karena tugas PR di sini hanya mempublikasi AFS dan program-programnya, padahal media massa hanya sebagai pelengkap atau pendukung kegiatan PR sedangkan di AFS itu merupakan tugas utama PR. Namun dukungan lingkungan sangat merespon baik dan ditindaklanjuti dengan keterlibatan partisipasi hanya saja bukan sebagi penyelenggra tetapi sebatas peserta.
Isi program yang dilakukan telah mempunyai relevansi dengan kehidupan publik, pesan yang disampaikan membawa manfaat bagi masyarakat dan sesuai dengan sistem nilai yang berkembang, karena manfaat yang diperoleh dari program AFS maka banyak yang mendaftarkan diri menjadi peserta beasiswa.
Kejelasan program mengenai pesan didesain sederhana dan mudah dipahami serta tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara AFS dan masyarakat. Pesan mudah diterima oleh masyarakat.
Kesinambungan dan konsisten program yang dijalankan sampai saat ini tidak pernah terputus jadi setuip tahun diadakan program pertukaran pelajar hanya materi dan tempat divariasikan agar tidak bosan dan membuat suasana baru. Meskipun mempunyai variasi tetapi alur yang berlangsung tidak pernah berada di luar program yang dtetapkan. Saluran komunikasi yang digunakan AFS seperti media massa lebih disesuaikan pada karakter kota Yogyakarta dengan koran Kedaulatan Rakyat-nya yang dianggap sangat dekat dengan masyarakat meskipun dapat diperoleh di luar Yogyakarta tetapi kedekatan dengan masyarakat luar Yogyakarta kurang sehingga sedikit kurang efektif.
Mengenai kemampuan publik dalam implementasi program dalam penyampaian pesan telah disesuaikan dengan karakter publik yang segmentasinya siswa SMA sehingga penyampaiannya selalu diusahakan dengan bahasa yang mudah mereka pahami. Dan berbagai media penyampaian pesan diupayakan semaksimal mungkin agar informasi yang dperlukan masyarakat dapat dengan mudah diperoleh masyarakat.
Evaluasi
Meskipun pencapaian tujuan utama dengan hasil yang diperoleh mengenai perdamaain dunia tetapi paling tidak memberikan gambaran dan pelajaran bagi para peserta penerima beasiswa mengenai kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan mereka yang patut untuk dijaga bersama-sama bukan untuk menjadi ajang permusuhan. Namun capaian hasil yang diperoleh atau target pendaftar telah terpenuhi bahkan sampai jauh diatas target yang ditentukan. Hal itu dapat terukur, terlihat dari jumlah peserta seleksi dari 250 melejit ke angka 650.
Dapat dikatakan citra AFS semakin baik melihat peminat semakin banyak dari tahun ke tahun.
Labels:
Public Relation
Monday, July 23, 2012
ETNOGRAFI CALON PENUMPANG DI HALTE BUS
Saya sedang menunggu bus di halte tempat biasanya saya menanti bus yang biasa saya naiki. Kebetulan bus yang saya naiki, saya harus cukup lama menunggu, karena mungkin jumlah armadanya tidak terlalu banyak tetapi alur perputaran busnya memang jauh dari ujung dunia Jogja bagian barat ke ujung dunia Jogja bagian timur. Mungkin terlalu hiperbola tetapi kenyataanya memang begitu dari ujung Godean hingga terminal Giwangan. Dengan begitu waktu saya cukup banyak untuk memperhatikan sekeliling saya, baik itu memperhatikan sesama calon penumpang bus maupun orang-orang yang berada di sekitar halte.
Untuk mengurangi rasa bosan dalam menunggu bus dengan memperhatikan sekitar dapat memberikan kesegaran tersendiri serta banyak hal yang bisa kita dapatkan dan pelajari. Sebenarnya tempat pemberhentian bus ini tidak resmi jadi tidak ada tempat duduk untuk menunggu bus. Saya dan beberapa penumpang berdiri menunggu bus masing-masing sesuai dengan tempat tujuan mereka. Jika di pagi hari sekitar jam enam sampai jam setengah delapan, banyak sekali anak-anak berseragam sekolah baik SD,SMP, ataupun SMA. Setiap ada bus datang pasti banyak diserbu, mereka kadang kurang memandang keselamatan diri mereka, mereka tidak peduli bus penuh sesak hingga mereka harus bergelantungan di luar bus. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana mereka bisa sampai di sekolah masing-masing secepatnya, terutama bila bus tersebut seperti yang saya naiki karena menunggunya sangat lama, dulu saya waktu masih duduk di bangku sekolah juga begitu tak peduli sesaknya bus asal bisa sampai di sekolah secepatnya tidak masalah, lagi pula kenek selalu menyuruh para wanita agar masuk ke dalam bus dan membiarkan para laki-laki untuk bergelantungan hingga di luar pintu bus. Selain para pelajar yang menunggu bus, juga tak sedikit guru yang terlihat dari pakaian seragamnya juga barang bawaannya seperti banyak buku yang dibawa mungkin buku-buku acuan yang akan dipakainya saat mengajar. Tapi hanya saja etika para pelajar kurang baik, kebanyakan dari mereka lebih mementingkan diri sendiri, terlihat mereka tidak mendahulukan orang yang lebih tua.
Menjelang jam orang kantor masuk sekitar jam setengah delapan hingga jam delapan lebih, kebanyakan calon menumpang yang berdiri menunggu bus adalah orang-orang kantoran yang tersurat melalui pakaiannya terutama bila wanita memakai blouse, dan pria memakai kemeja serta mereka mengenakan pakaiannya sangat rapi mungkin untuk menunjang karir mereka agar lebih maju lagi.
Jam sembilan hingga sebelum jam sebelas calon penumpang cenderung sepi karena merupakan jam sibuk bagi pelajar maupun kantoran, halte bus cenderung sepi juga, jadi saya bisa leluasa saat masuk ke dalam bus dan tak perlu berdesakan jika saya menunggu bus saat jam-jam ini.
Mulai ramai kembali jam pulang sekolah hingga pulang kantor sekitar jam dua belas sampai jam enam petang, apa lagi khusus untuk bus-bus tertentu jam lima sore adalah jam terakhir mereka beroperasi, maka justru di jam-jam terkhir bus-bus beroperasi akan banyak penumpangnya dan banyak juga yang menunggu di berbagai halte.
Aktivitas di halte juga bervariasi, ada yang mengeluh kepanasan jika siang hari, mengeluh capai karena menunggu bus terlalu lama. Ada juga yang cuek duduk di trotoar sepertinya dia seorang mahasiswi yang ditanggannya beberapa membawa buku lumayan tebal, mahasiswi itu mengesampingkan gengsi dan malunya untuk melepas lelah karena capai berdiri apa lagi dengan bawaannya yang terlihat lumayan berat. Seorang wanita setengah baya tampak mendekati saya dan bertanya tentang jalur bus tertentu karena saya memang setiap hari bergelut dengan bus dan saya mengetahui sebagian besar jalur-jalur bus maka saya bisa menjawab. Kadang saya juga bertemu dengan orang yang tidak tahu sama sekali tentang jalur bus di jogja tetapi saya heran mengapa orang tersebut berani dan tidak takut akan tersesat nantinya, sepertinya orang tersebut hanya bermodal berani dan tidak malu bertanya. Padahal saya saja yang orang Jogja asli jika belum pasti tahu jalur tertentu itu berjalan kemana saja, saya tidak berani untuk menaikinya. Terkadang juga orang dari luar Jogja maupun turis hanya berbekal peta saja. Percakapan di halte kadang tidak hanya sampai di situ jika dua orang yang bercakap-cakap tersebut menunggu bus yang sama dan kebetulan mendapat kursi yang sama pasti percakapannya akan berlanjut. Selain itu isi percakapan yang ada di halte juga bermacam-macam tergantung personal dan latar belakang diri masing-masing, ada yang membicarakan masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Kadang ingin rasanya bergabung atau meluruskan pembicaraan tersebut jika saya rasa hal itu salah, atau pun juga saya ingin tertawa jika isi percakapan tersebut memang lucu.
Dan saya asyik memperhatikan sekitar yang memang sangat menyenangkan untuk dinikmati meski rasanya sepele.
Cultural Behavior : aktivitas di halte bus
Cultural Artifacts : buku, bus, peta
Cultural Knowledge : jika berpergian jangan malu untuk bertanya dan bawalah peta jika perlu ataupun jika berasal dari luar Jogja dan belum tahu apa pun mengenai Jogja dan disertai dengan jalur-jalur bus. Ada waktu-waktu tertentu bagi orang-orang yang sering bepergian mengunakan bus saat ramai, senggang, serta waktu kapan bus terakhir beroperasi. Jalur-jalur bus tergantung tempat tujuan yang dikehendaki. Sedikit orang yang mau duduk di pinggir jalan dengan mengesampingkan rasa malu dan gengsinya karena sudah lelah. Kebanyakan meski lelah tidak banyak yang mau duduk-duduk di penggir jalan atau trotoar. Meskipun bukan halte resmi tetapi para calon penumpang bus tetap memberhentikan bus di mana saja sesuka mereka. Ada penghargaan terhadap wanita. Bus merupakan salah satu alat transportasi semua kalangan dan dari berbagai macam latar belakang.
Labels:
etnografi
Sunday, July 22, 2012
menuliss adalah proses
Sejak kecil sebenernya udah hobi nuliss, apa aja deh. Mau nulis buku harian, puisi, cerpen, naskah drama deelel tapi yang rada males ngepostingnya hee... Sempet juga mandeg dan buat mulainya itu ga mudah. menulis adalah proses. berproses untuk menjadi sesuatu. ketika proses tersebut berhenti maka tidak ada hasil apa-apa yang didapat.
Saat ini sedang akan mulai lagi menulis. Hal wajibnya sih nulis Thesis, si wowing itu... tapi sampingnya pengen aktif ngeblog lagii. fighting novi ^^
Friday, April 30, 2010
KENANGAN
By: Novi The C
Terngiang akan sgala kepahitan yang dirasa
Tak dipungkiri terukir secuil manis yang buat diri merindunya
Meski kadang berujung pada luka lama
Jogjakarta, 19 Juni 2009
Terngiang akan sgala kepahitan yang dirasa
Tak dipungkiri terukir secuil manis yang buat diri merindunya
Meski kadang berujung pada luka lama
Jogjakarta, 19 Juni 2009
Labels:
Rajutan kata yang terbingkai
Thursday, April 29, 2010
MERINDU-DULU.!
By: Novi The C
Hati ini serasa datar dan samar
Tak sedikit terlihat rongga-rongga yang membuatnya hampa mengelepar
Singgasana megah dihati ini
Pun tlah ditinggal sang empu
Para perebut tahta
Tak sedikit meninggalkan luka.
Membiarkan kau menempatinya kudamba
Bukan hanya termanggu
Jua bisa menutup lubang di hati ini
Serta buatnya hidup lagi dan berwarna
Karna sosokmu sangat kurindukan(dulu)
Jogjakarta, 23 Mei 2009
Hati ini serasa datar dan samar
Tak sedikit terlihat rongga-rongga yang membuatnya hampa mengelepar
Singgasana megah dihati ini
Pun tlah ditinggal sang empu
Para perebut tahta
Tak sedikit meninggalkan luka.
Membiarkan kau menempatinya kudamba
Bukan hanya termanggu
Jua bisa menutup lubang di hati ini
Serta buatnya hidup lagi dan berwarna
Karna sosokmu sangat kurindukan(dulu)
Jogjakarta, 23 Mei 2009
Labels:
Rajutan kata yang terbingkai
Subscribe to:
Posts (Atom)

